Mereka menggalakkan desa bebas plastik sekali pakai, membangun bank sampah, dan mengubah limbah kelapa jadi briket energi
Perubahan ini bukan datang dari intervensi besar-besaran pemerintah pusat, melainkan dari semangat gotong royong, kearifan lokal, dan kreativitas warga yang tak kenal menyerah. Warga juga merekam cerita leluhur dalam bentuk video dokumenter, memastikan pengetahuan lokal tak punah oleh zaman. Beberapa anak bahkan juara olimpiade sains tingkat provinsi bukti bahwa keterbatasan geografis bukan penghalang prestasi. Dulu dikenal sebagai wilayah terpencil dengan akses jalan berlumpur dan keterbatasan listrik, kini Waworasa Permai menjelma menjadi percontohan desa mandiri, inovatif, dan berdaulat baik pangan, energi, maupun budaya. Tak ada lagi anak putus sekolah. Kini, warga percaya: masa depan bisa dibangun dari desa. Jalan setapak berlumpur membuat distribusi hasil tani tersendat, anak-anak kesulitan ke sekolah, dan akses kesehatan nyaris mustahil. Hasilnya? Waworasa Permai kini jadi lokasi riset mahasiswa, pemasok hasil tani organik ke kota terdekat, dan desa tangguh bencana.