Hidup di Waworano mengajarkan bahwa kemajuan bukan soal gedung tinggi, tapi kualitas hidup yang seimbang
Perubahan ini bukan datang dari intervensi besar-besaran pemerintah pusat, melainkan dari semangat gotong royong, kearifan lokal, dan kreativitas warga yang tak kenal menyerah. Banyak yang dulunya merantau ke kota, kini kembali membangun desa. Hasilnya? Tanah kembali subur, biaya produksi turun, dan panen padi bisa mencapai tiga kali setahun sesuatu yang dulu dianggap mustahil. Selain klinik sehat berbasis herbal, Waworano juga menjadi lokasi praktik tenaga kesehatan muda. Petani kini menggunakan aplikasi cuaca lokal dan drone untuk memantau lahan. Warga juga merekam cerita leluhur dalam bentuk video dokumenter, memastikan pengetahuan lokal tak punah oleh zaman. “Kami bukan mau terkenal,” kata seorang tokoh masyarakat. Bahkan, kopi Waworano kini mulai dikenal di kota besar, sementara madu hutan dan gula semut diekspor ke luar daerah.