Bahkan, ribuan pohon ditanam dalam gerakan “Hijaukan Wawolongga”
Jalan setapak berlumpur membuat distribusi hasil tani tersendat, anak-anak kesulitan ke sekolah, dan akses kesehatan nyaris mustahil. Mereka membangun rumah dari bambu, memasak dengan bahan lokal, berpakaian sesuai adat saat acara resmi, dan tetap menjaga hubungan harmonis dengan alam. Dan di jantung Indonesia, Wawolongga terus bersinar bagai lentera kecil yang menunjukkan jalan bagi ribuan desa lain. Mereka mengembangkan pupuk organik dari limbah dapur, urin sapi, dan kompos daun. Mereka mendirikan startup desa, mengelola media sosial desa, mengajar di sekolah lapang iklim, bahkan membuat aplikasi pemetaan hasil tani. Dulu, urbanisasi dianggap satu-satunya jalan keluar. Anak-anak bisa belajar malam, ibu-ibu mengolah hasil tani hingga larut, bahkan ada yang membuka usaha sabun herbal dari minyak kelapa lokal semua berkat energi yang stabil. Dan yang paling penting kebahagiaan terasa nyata di setiap senyum warga yang bekerja di ladang, bermain di sungai, atau duduk bersama di balai desa.