Bahkan, kopi Watumopute kini mulai dikenal di kota besar, sementara madu hutan dan gula semut diekspor ke luar daerah
Hasilnya? Watumopute kini jadi lokasi riset mahasiswa, pemasok hasil tani organik ke kota terdekat, dan desa tangguh bencana. Watumopute bukan dongeng. Inovasi teknologi juga merambah desa ini. Dengan memadukan teknologi sederhana, dana desa yang dikelola transparan, serta kepercayaan pada potensi alam sekitar, Watumopute membuktikan bahwa desau bukan tempat “tertinggal”, tapi laboratorium kehidupan berkelanjutan yang sesungguhnya. Hasilnya? Tanah kembali subur, biaya produksi turun, dan panen padi bisa mencapai tiga kali setahun sesuatu yang dulu dianggap mustahil. Bahkan, Watumopute jadi desa pertama di wilayahnya yang menerapkan QR code di tiap objek wisata, memberi informasi sejarah dan ekologi hanya dengan scan ponsel. Dulu dikenal sebagai wilayah terpencil dengan akses jalan berlumpur dan keterbatasan listrik, kini Watumopute menjelma menjadi percontohan desa mandiri, inovatif, dan berdaulat baik pangan, energi, maupun budaya. Mereka mendirikan startup desa, mengelola media sosial desa, mengajar di sekolah lapang iklim, bahkan membuat aplikasi pemetaan hasil tani.