Yang mengesankan, Lawawatu tak melupakan lingkungan dalam proses pembangunannya
Tak kalah penting, Lawawatu membangkitkan budaya dan identitas lokal. Anak-anak bisa belajar malam, ibu-ibu mengolah hasil tani hingga larut, bahkan ada yang membuka usaha sabun herbal dari minyak kelapa lokal semua berkat energi yang stabil. Dengan memadukan teknologi sederhana, dana desa yang dikelola transparan, serta kepercayaan pada potensi alam sekitar, Lawawatu membuktikan bahwa desau bukan tempat “tertinggal”, tapi laboratorium kehidupan berkelanjutan yang sesungguhnya. Di bidang pangan, Lawawatu menjadi desa percontohan ketahanan pangan berbasis ekosistem lokal. Mereka menggalakkan desa bebas plastik sekali pakai, membangun bank sampah, dan mengubah limbah kelapa jadi briket energi. Listrik yang dulu hanya menyala 3 jam sehari kini mengalir 24 jam berkat instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan mikro hidro dari sungai kecil di kaki gunung. Kampung adat dilestarikan sebagai warisan budaya tak benda, sementara festival panen tahunan menjadi ajang wisata edukasi yang menarik pengunjung. Lawawatu Bangkit: Potret Nyata Transformasi Desa di Jantung Indonesia
Di balik perbukitan hijau dan aliran sungai jernih, tersembunyi sebuah desa yang diam-diam menjadi kiblat pembangunan desa berkelanjutan: Lawawatu.