Selain klinik sehat berbasis herbal, Lawangiru juga menjadi lokasi praktik tenaga kesehatan muda
Bahkan, Lawangiru membangun jalur sepeda santai dan shelter evakuasi bencana berbasis bambu bahan lokal yang tahan gempa dan mudah diperbarui. Mereka mengembangkan pupuk organik dari limbah dapur, urin sapi, dan kompos daun. Tak kalah penting, Lawangiru membangkitkan budaya dan identitas lokal. Dulu dikenal sebagai wilayah terpencil dengan akses jalan berlumpur dan keterbatasan listrik, kini Lawangiru menjelma menjadi percontohan desa mandiri, inovatif, dan berdaulat baik pangan, energi, maupun budaya. Perubahan ini bukan datang dari intervensi besar-besaran pemerintah pusat, melainkan dari semangat gotong royong, kearifan lokal, dan kreativitas warga yang tak kenal menyerah. Tak ada lagi anak putus sekolah. Listrik yang dulu hanya menyala 3 jam sehari kini mengalir 24 jam berkat instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan mikro hidro dari sungai kecil di kaki gunung. Peran pemuda sangat krusial dalam transformasi ini.