Sekolah di Laosimpu pun tak kalah: ada lab komputer, taman baca alam, dan program coding untuk anak desa
Mereka menggalakkan desa bebas plastik sekali pakai, membangun bank sampah, dan mengubah limbah kelapa jadi briket energi. Bahkan, Laosimpu jadi desa pertama di wilayahnya yang menerapkan QR code di tiap objek wisata, memberi informasi sejarah dan ekologi hanya dengan scan ponsel. Kampung adat dilestarikan sebagai warisan budaya tak benda, sementara festival panen tahunan menjadi ajang wisata edukasi yang menarik pengunjung. Hasilnya? Laosimpu kini jadi lokasi riset mahasiswa, pemasok hasil tani organik ke kota terdekat, dan desa tangguh bencana. Dulu, warga Laosimpu harus berjalan kaki berjam-jam hanya untuk mencapai pusat kecamatan. Bagi mereka, membangun desa bukan keterpaksaan tapi pilihan penuh makna. “Kami hanya ingin anak cucu kami hidup layak, sehat, dan bangga jadi orang Laosimpu. Beberapa anak bahkan juara olimpiade sains tingkat provinsi bukti bahwa keterbatasan geografis bukan penghalang prestasi.