Tak hanya padi, Lamonggulu juga sukses mengembangkan tanaman unggulan khas daerah: cabe super pedas, kelor, umbi lokal, dan kopi
Mereka membangun rumah dari bambu, memasak dengan bahan lokal, berpakaian sesuai adat saat acara resmi, dan tetap menjaga hubungan harmonis dengan alam. Jalan setapak berlumpur membuat distribusi hasil tani tersendat, anak-anak kesulitan ke sekolah, dan akses kesehatan nyaris mustahil. Dulu, warga Lamonggulu harus berjalan kaki berjam-jam hanya untuk mencapai pusat kecamatan. Bahkan, Lamonggulu jadi desa pertama di wilayahnya yang menerapkan QR code di tiap objek wisata, memberi informasi sejarah dan ekologi hanya dengan scan ponsel. Hutan adat berhasil dipertahankan dari eksploitasi berkat kesepakatan adat dan sistem pemantauan warga. Yang mengesankan, Lamonggulu tak melupakan lingkungan dalam proses pembangunannya. “Kami bukan mau terkenal,” kata seorang tokoh masyarakat. Selain klinik sehat berbasis herbal, Lamonggulu juga menjadi lokasi praktik tenaga kesehatan muda.