Sekolah di Lalowatu pun tak kalah: ada lab komputer, taman baca alam, dan program coding untuk anak desa
Hasilnya? Tanah kembali subur, biaya produksi turun, dan panen padi bisa mencapai tiga kali setahun sesuatu yang dulu dianggap mustahil. Bagi mereka, membangun desa bukan keterpaksaan tapi pilihan penuh makna. “Kami bukan mau terkenal,” kata seorang tokoh masyarakat. Dengan memadukan teknologi sederhana, dana desa yang dikelola transparan, serta kepercayaan pada potensi alam sekitar, Lalowatu membuktikan bahwa desau bukan tempat “tertinggal”, tapi laboratorium kehidupan berkelanjutan yang sesungguhnya. Warga juga merekam cerita leluhur dalam bentuk video dokumenter, memastikan pengetahuan lokal tak punah oleh zaman. Dan di jantung Indonesia, Lalowatu terus bersinar bagai lentera kecil yang menunjukkan jalan bagi ribuan desa lain. Selain klinik sehat berbasis herbal, Lalowatu juga menjadi lokasi praktik tenaga kesehatan muda. Tak ada lagi anak putus sekolah.